The reason why Ryan follow people randomly

Standard

Kemarin siang Ryan Adriandhy ngetweet tentang bagaimana dia follow orang-orang ‘terpilih’. Ehem… merasa terpanggil. :))
Saya akan berkomentar beberapa tweet yang dia post.
1.

image

Iya, I never ask him to follow me back. So, perhaps that’s the reason why he is.
2.

image

Surprise banget. Sampe ngecek berulang kali karna ga nyangka. Am I deserved to have it? :D
3.

image

Berarti dia baca tweet-tweet saya tentang dia, dong? Sebelum di follow, sering ngetweet tentang Ryan tanpa mention orangnya. Saking kagum sama talentanya yang banyak. Setelah di follow, mengurangi hal itu. Malu, aduh! =))

Haha okay, enough.

– Annisa Cynthia P

Advertisements

Antara Entertainer dan Followback Twitter

Standard

Capture14_32_51Ditengah-tengah kehebohan orang-orang yang jadi fakir folbek dan mention kepada idolanya, saya malah selalu beruntung di followback sama orang-orang favorit saya tanpa saya minta sekali pun.

Kali ini, mood booster baru saya (yang baru aja saya kenalkan beberapa hari lalu disini: http://wp.me/pH98T-9P) follow akun twitter saya dan itu membuat saya tiba-tiba pengen menjerit. Berhubung saya lagi di kantor, saya tahanlah jeritan itu dan malah jadi senyum-senyum sendiri sampe di komentar orang. Err…

followback3Gak ngerti apa alasannya Ryan tiba-tiba follow saya. Sebelumnya, pagi-pagi saya iseng mention Ryan, “I just heard your Suit & Tie cover. Sounds good :) can you make another song cover later?”. Lalu beberapa jam kemudian, ternyata Ryan bales, “We’ll see. Haha”. Duh, dibales pendek gitu aja udah seneng banget. That was succesfully boosted my mood enough. Udahlah saya gak banyak macem-macem setelah itu. Cukup klik favorit mention-nya, selesai. Asik twitteran lagi, mention-mention-an sama temen-temen (lagi ga ada kerjaan di kantor, red). Tiba-tiba ada pemberitahuan dari tab interactions Twitter, “Ryan Adriandhy followed you”. Ha? Ini apa? Ya gitu deh kurang lebih ekspresi saya, bengong selama 5 detik sebelum beneran sadar -__-

Pas sadar itu lah, “OH MY GOD!” dalam hati tapinya. Kenapa Ryan follow saya? Kok bisa? Mention dia aja gak sesering orang. Apalagi sampe ngemis-ngemis ala fakir folbek dan mention, boro-boro, bro! :P

Masih ga percaya, karna takutnya Ryan cuma liat-liat profil saya, terus kepencet follow padahal ga niat follow. Terus dia unfollow lagi deh. So, I checked my followers list. Huwaaahh benerr! Ah, masih belum percaya. Saya cek lagi via twitter client lain, dan benar. Belum yakin juga, cek following list nya Ryan, bener kok. Masih ga percaya lagi, cek lagi. I did that repeatedly all day long. Iya, emang, lebay banget. Saking senengnya gitu deh.

Saya mendadak ngefans sama Ryan setelah serial Malam Minggu Miko selesai. Follow twitter dia pun paling baru sebulan atau 2 bulan terakhir. Sejak itu saya baru banyak cari tau. Makanya, di followback dia secepat ini bikin saya speechless. Banget.

Ngobrol-ngobrol soal followback, sebelumnya, saya di followback ke-tiga personil Numata, dan itu prosesnya lumayan lama. Kesamaannya cuma satu, saya gak minta. Haha.

tapi, kalo boleh berbangga (tepatnya pamer), entertainer yang follow saya bukan cuma mereka aja. Saya orang biasa, tapi beberapa dari mereka yang follow saya, gak pernah sekalipun saya minta. Kecuali si bintang cilik, Umay. Berikut adalah mereka yang follow saya:

  1. followedAri Tulang (@aritulang), professional coreographer – kalo dia emang kebiasaannya following para followersnya. Tapi, dia tetep terbilang entertainer, dong?
  2. Mhala Numata (@mhalanumata), musician – dari semua personil numata, dia lah yang pertama kali follow saya. Tanpa sepengetahuan, username twitternya Mhala udah ada di deretan followers saya.
  3. Inu Numata (@inunumata), musician – saya masih inget gimana Inu follow saya. Setelah saya mention (lupa apa bahasannya), lalu dia bales kurang lebih seperti ini, “kamu baik deh. Saya follow yaa!”. That was his fault, setelah dia ngetwit itu, dia diserbu followersnya pengen di followback juga. Hahaha. Sayangnya, saya lupa klik favorit twit itu.
  4. Tantra Numata (@TantraNumata), musician – kalo yang ini saya agak lupa. Yang saya inget, tau-tau udah ada di list followers saya.
  5. Cut Artharina (@CutArtharina), professional dancer – mungkin cuma beberapa dari kalian aja yang tau dancer satu ini. Saya suka, saya mention say hello, lalu setelah itu dia folbek.
  6. Gilang Dirgahari (@GilangDirga), actor – ini kasusnya sama dengan Ari Tulang.
  7. Terry (@terrylize), singer (pelantun lagu “Harusnya Kau Pilih Aku” dan Remake “Butiran Debu”) – sama lagi sama Ari Tulang dan Gilang Dirgahari.
  8. Umay (@umaykeren), actor & singer – nah, kalo ini saya emang minta. Tapi kondisinya saat itu, Umay lagi open follow (istilah untuk follow back secara besar-besaran). Isenglah saya mention si adik kecil, Umay ini. Mau ‘kecipratan’ folbek atau ngga, ya terserah. Eh ternyata saya dapet. Hehe
  9. Kelly Boham (@kellyboham), HEARTS girlband’s personel – belum banyak yang tau siapa dia, karna girlband nya belum lama muncul di tv. Saya dikenalin Inu, lalu saya di folbek sama Kelly.
  10. Valiant Budi Yogi (@vabyo), penulis buku (salah satunya, Kedai 1001 Mimpi), composer beberapa lagunya boyband SM*SH – saya tau mas Vabyo dari Mhala karena mereka temenan. Lalu tau baca beberapa bukunya yang keren. Dan tanpa sepengatahuan, mas Vabyo udah nangkring di list followers entah udah berapa lama sebelum saya sadar.
  11. Ryan Adriandhy (@Adriandhy), stand-up comedian/comic – the latest one, yang saya ceritakan diatas tadi kronologisnya.

Kalo nge-fans mah, nge-fans aja. In my opinion, cukuplah kita kenal dia sebagai entertainer, ga usah ngarep macem-macem. Mereka punya kesibukan dan mereka punya privasi. Mereka memang butuh kita (fans) untuk menunjang kariernya, tapi bukan berarti kita harus selalu tau apa kegiatannya setiap jam bahkan menit. Dan soal twitter, entertainer punya twitter bukan cuma buat komunikasi dengan teman/penggemar aja. Mereka menggunakan media itu juga untuk pekerjaan mereka (promo, misalnya). Gak usahlah kita ngemis-ngemis minta folbek atau (yang lebih sepele) dibales mention nya. Aktifitas mereka bukan cuma di depan twitter. Jangan pernah menganggap kalo mereka gak menanggapi tweetmu berarti mereka sombong. I can make sure that they’re always read your tweets even they’re not reply yours. Mention silahkan. Tapi tau etika. Kalo isinya, “folbek dong kak”, ya ngga semua entertainer melakukan itu. Bertanyalah atau share something sama mereka secara wajar. Di bales, syukur. Ga dibales, “yaudah lah”. Folbek? Saya percaya, mereka punya alasan kuat kenapa mereka gak sembarang follow orang dan kenapa mereka jarang bales mention. Di follow back, belum tentu twitnya selalu di bales. Dan yang ga di follow back, bukan berarti ga bisa mention atau ngobrol sama doi (except If the user account has protect). So, let them free for what their will do.

– Annisa Cynthia Pratami.

…By the way, thank you so much, Ryan Adriandhy. You made my day :)

Inu, Mhala, Tantra “Numata”: A Friendly Musicians I’ve Ever Knew

Standard

Ada yang masih ingat cerita saya, yang batal ketemu Numata di Bandung beberapa waktu lalu? Kejadian ini ternyata sudah 3 tahun yang lalu. Tepatnya 4 April 2010.

Tapi peristiwa yang membuat saya kecewa itu, justru malah berakhir berkah. Saya bersyukur akan kegagalan yang satu ini. Waktu itu, lagi heboh-hebohnya soal social media di Indonesia. Salah satunya Twitter. Banyak akun-akun twitter entertainer di Indonesia yang menggunakan social media satu ini jadi. Lalu, ketemu lah akun twitternya Inu (@inunumata). Saya memang suka dengan lagu-lagunya Numata. Beberapa waktu berikutnya, saya follow Mhala (mhalanumata), lalu Tantra (TantraNumata). I just want to know them deeply. That’s all. Menyapa mereka, nanya ini – nanya itu, dan hal-hal wajar lainnya. Ngga kaya orang-orang lain yang ngakunya nge-fans tapi malah jadi fakir folbek dan mention. Haha.

Basically, they are very humble. Entah mereka melihat saya dari sisi mana, setelah kejadian itu, mereka mempercayai saya memiliki kontak pribadi mereka. ID Yahoo Messenger adalah yang kedua yang saya punya. Karena yang pertama adalah follow back akun twitter saya yang tanpa saya minta. Once again and please note: tanpa-saya-minta. *sombong x))*

Semakin sering berkomunikasi dengan mereka, semakin saya merasa “They are means a lot to me”. Mereka mempercayai (lagi) saya bisa menjaga rahasia mereka. I mean, mereka senang bercerita pada saya bagaimana yang sebenarnya terjadi di balik panggung. Ada yang positif, ada yang negatif. Kadang, mereka juga suka cerita tentang keluarga dan teman-teman artis mereka, walaupun gak banyak. Ah ya, kalo boleh

saya bocorkan, saya sering dapet informasi tentang kegiatan mereka atau bahkan artis-artis lainnya sebelum masyarakat tau. Hahaha. Tapi saya baik, gak sembarangan sebar informasi-informasi ‘rahasia’ itu. Hehe.

Beberapa bulan berikutnya (setelah insiden gagal ketemu), saya dan dua teman saya di Bandung dapet kesempatan ketemu Inu dan Mhala. Yang spesial disini adalah kita ketemu mereka bukan dalam satu event musik atau yang lainnya. Tapi, ini acara kita sendiri. Masih sangat saya ingat, hari itu 26 Juli 2010. Saya, Selda, dan Raafi make appointment with Inu dan Mhala di Coffee Bean – Bandung Super Mall (yang sekarang jadi Trans Studio Mall), Bandung. It was an honor for us. Pertemuan eksklusif  dan pertama kalinya ketemu mereka :’) kurang baik apa coba? Artis lain belum tentu bisa kaya gini.

Kebaikan mereka ga sampai disitu, setelah punya semua kontak-kontak penting dan pribadi milik mereka (bukan cuma ID YM dan saya gak perlu kasih tau juga apa aja :D), juga pertemuan eksklusifnya, pada Juli 2011 lalu saya bareng temen-temen Numatars (sebutan untuk fans Numata) di undang ke acara syukuran ulang tahun Numata yang ke-9. Yang lebih menyenangkan adalah acara tersebut diselenggarakan di rumah mereka! Huhuuuyy~

Pertama, mereka mengajak semua Numatars untuk hadir. Tapi mendekati hari H, mereka memilih untuk sebagian saja. Karna takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Saya ngerti sih, karna ini acaranya di rumah pribadi mereka. Sedangkan yang namanya fans tuh kadang suka ada yang gak punya batas toleransi. Bisa bayangin kan kalo ada fans fanatik yang udah tau rumah idolanya? Nah, disini saya dipercayakan untuk mengatur siapa aja yang bisa dipercaya untuk dateng. Hihi.

Udah hampir 2 tahun ini kita gak pernah ada kumpul-kumpul lagi. Numata lagi sibuk sama project-nya masing-masing. I miss them so much. Fortunately, masih ada contact sama mereka. Walaupun gak sering, setidaknya masih ada update kegiatan mereka.

They’re treat me like I am a part of their friends. Maksudnya, kebanyakan artis kan selalu membatasi diri mereka dengan fansnya. Walaupun ngakunya depan infotainment, “fans adalah sahabat saya juga”. Hahaha. Kalo mereka, ngga gitu. Buktinya, mereka mau cerita banyak yang sebenernya sebagai fans ga perlu tau-tau banget. Disini, justru saya yang membatasi diri. Saya yang menyaring mana yang bisa saya “korek” infonya, mana yang gak perlu saya tau detailnya dan mana yang bisa saya share ke orang atau cuma saya aja yang tau. Karena, sejak saya kenal mereka pertama kali, saya gak banyak mau. Kenal mereka dengan baik, cukup. Yang ternyata malah saya dapatkan lebih. Itulah manfaat sebagai fans yang tulus~ *pret

Mereka tau saya sekarang tinggal di Jakarta. Saya yang cerita sama mereka. Sesekali di setiap obrolan suka ada pertanyaan, “ayo, kapan dong ketemu lagi?” Ah, senangnya. Selama saya disini, saya baru ketemu Mhala aja. Yang lainnya belum karna mereka sibuk sama project nya masing-masing itu. Saya pengen ketemu mereka komplit. Pengen nonton mereka live performance. Karna selama ini, saya ketemu mereka selalu diluar kegiatan manggung mereka. Pernah pun cuma satu kali dan itu on air untuk acara televisi. Mendengar dari teman-teman yang pernah nonton mereka off air, mereka lebih keren dan out of the box.

Jadi, kapan kita ketemu? Bulan depan boleh, ya? :D

– Annisa Cynthia P.

DSC08277

The first time I met Inu & Mhala “Numata”

IMG03843-20110219-1659

Lagi liburan ke Jakarta, menyempatkan ketemu Mhala – Feb ’11

numata9thanniversary.jpg

This picture taking from the front of their house

The latest time I met Mhala - Nov'12

The latest time I met Mhala – Nov’12

Masa Orientasi di University of Life (Part II)

Standard

(this is the continued the story I’ve posted before)

Senin, 3 Desember 2012, hari itu masih euphoria graduation day yang baru saja berlangsung 2 hari sebelumnya. Menjelang siang, berubah tegang dan membuat saya terheran-heran gak percaya. My AR manager inform me that I have to move to Head Office. Damn! Saya bingung antara seneng, “lho kok?”, dan bengong sambil bergumam “this is too fast”. Emang suatu keinginan bisa berkantor di kantor pusat. Agak keren aja gitu. Haha.

Okay, back to the point. Head Office (HO) ini berlokasi di Batu Ceper, Jakarta Pusat. Sedangkan saya domisili di Jakarta Selatan (kost). Ini hal pertama yang bikin saya sebal. Kalo tau gini, saya gak akan buru-buru pindah dari rumah sepupu saya ke kost. Berselang seminggu dari pindahan, kantor pindah. Ya jauh lagi lah lokasinya. Nyebelinnya lagi, saya sudah bayar kost untuk 1 bulan. Sayang banget kalo ditinggal gitu aja. Even all the things I bring to the kost, belum sempet saya beresin. Akhirnya, barang2 yang belum keluar dari tas gak saya keluarin untuk disimpen di lemari. Toh, abis ini saya mau keluar lagi dari kostan, kan?

Mutasi yang amat-sangat super cepat ini semakin kalang kabut karena esoknya setelah saya diberitahukan oleh manager saya untuk mutasi, saya pergi ke HO. Bertemu dengan partner saya nanti dan 3 orang rekan kerja satu ruangan yang berbeda divisi. Juga, dijelaskan jobdesk saya sebagai National Admin Collection.

It’s very simple than my jobdesk before. I just thinking, okay, I can hendled it. Dan yang terjadi besoknya adalah, saya kewalahan sama kerjaan sendiri. Hari itu, partner saya gak masuk karna harus istirahat total gara-gara sakitnya (that’s one of the reasons why I move to Head Office). Kerjaanya cuma mengkoordinir IOM Pergantian Biaya Perjalanan (IOM-PBP) dari seluruh cabang (penjelasan ada di Part I), di serahkan ke direksi yang berwenang untuk menentukan di setujui atau tidaknya biaya yang di ajukan. Tapi, yang claim biaya hari itu banyaaaaaakkk banget. Email baru terus menerus muncul. Belum lagi IOM-IOM yang pending karna persyaratannya belum lengkap. Terus, di panggil direksi untuk menghadap, menjelaskan kronologis-kronologis kolektor saat penarikan unit – yang harus saya hafalkan. Cuma satu yang saya pikirkan waktu itu, “jam bubar kantor kok lama banget?”. Fortunately, kejadian seperti itu ga berlangsung setiap hari, makin kesini, I spend times at office for sleep, gaming and internet. Hehehe.

Hectic day gak hanya sampai disitu aja. It’s became a hectic week. Serah terima jabatan di kantor cabang belum terlaksana. Yaa, karna perpindahan yang cepat itu. Ditambah laporan bulanan yang belum saya kerjakan sepenuhnya. Karna di HO cuma 5 hari kerja, sedangkan untuk cabang 6 hari, yaitu sampai dengan Sabtu, pada hari itulah saya menyempatkan diri datang ke kantor cabang di Pondok Indah. Finish off my job at there, then dadah-dadah sama rekan-rekan kerja disana yang kebetulan para ibu-ibu cukup muda. Haha.

Almost a month tinggal di kost di Pondok Indah dan masih belum menemukan kost baru. Daerah sekitar kantor yang baru ini, terkenal dengan “kehidupan malam”-nya. Saya jadi ragu-ragu dan gak terlalu berminat cari kost disitu. Terus dimana?

Seminggu sebelum harus bayar kost lagi, saya diajak tinggal sama sepupu saya yang lain. Saya coba menginap sehari disana. Actually, that was not long distance enough dari lokasi kantor. Okay, fixed!

Saturday, 22nd of December, I’m move on.

Sudah lebih dari 3 bulan saya tinggal di daerah Matraman, Jakarta Timur. Selama itu, saya sangat di uji kesabarannya. Mulai dari kemacetan yang parah, antrian di halte bus transjakarta yang selalu panjang, dan sikap 2 adik sepupu saya yang saya gak ngerti sama kelakuannya. Itu membuat saya semakin kesal berada dirumah. Badan dan pikiran yang cape sama kerjaan dan jalanan, harus dibikin semakin pusing sama keributan tiap malam.

Since I moved to my cousin’s house, I never go back to hometown. I never meet my parent and sister. Never join with my college’s friend too. Selain penghematan biaya, saya juga perlu istirahat. Bekerja di HO memang tidak melelahkan ― bahkan cenderung nganggur, tapi perjalanan yang membuat saya butuh istirahat. Tidur.

As I wrote above, saya tipe pemalas, maunya leyeh-leyeh. Jadi ketika saya harus dihadapkan pada rutinitas di Jakarta, I often worrying about my healthiness. Saya alergi debu, dua minggu pertama berada di Jakarta, saya terserang flu. Abis itu sembuh, gak sakit-sakit lagi.

Tapi kekhawatiran gak sampai disitu, karna saya merasa saya tidak se-fit sebelum saya di Jakarta. Cape, makanan kurang sehat, dan kurang tidur. Dan itu terjawab 3 minggu lalu. Berawal dari batuk kering (yang saya biarkan), then become to batuk berdahak. Gigi bungsu yang baru tumbuh, dan gusi jadi bengkak. Hari itu, minggu malam, sepulang saya dari SAE Institute, badan tib-tiba demam. So I choose to get dine and sleep early. Tapi selama tidur saya gelisah terus. Dan demam pun gak turun. Sampe menjelang pagi, tidur pun masih gak nyenyak. “You have to go work, you should be healed!” Tapi, menanamkan pikiran itu tidak berhasil.

Memutuskan untuk gak masuk kantor. Hari pertama ga langsung ke dokter, karna biasanya sehari juga sembuh. Minum obat warung, and all have done. Perkiraan itu, ternyata masih salah juga. Hari kedua, ga ngantor lagi dan pergi ke dokter. Hari ketiga, demam masih naik-turun. Saya kesel, saya mau pulang, saya mau manja sama ayah-ibu. This was the first time that I am sick and no one of my family beside me. I only talked on messenger with them. Saya menyerah, saya ga sanggup di ospek di kampus ini.

Sakit yang saya rasakan saat itu gak cuma sakit fisik, tapi juga batin. Can you imagine when you can’t meet your family for a long time? Ketika sakit itulah, kangennya makin berasa. I felt that is hard to heal because I miss them so much. Sampai pas malam ketiga, ibu saya telepon for  make sure that her daughter is fine (although, she knew I’m not fine). Then, I’m feeling better. Hoping tomorrow can be more better and I can go back to work. And that’s worth it!

Kalo kerja lalu ga masuk gara-gara sakit itu rugi serugi-ruginya. Because attendance is calculated for salaries. Huh.

Selama satu semester kuliah di University of Life, banyak banget pelajaran dan pengalaman-pengalaman baru yang membuat saya sering bilang: “pantesan orang tua sering memperingati ga boleh gini, harus gitu” atau “oh ternyata emang bener apa kata orang-orang kalo blablabla itu begini”. Hhh.. one semester is so tiring and worth it. Masa orientasi yang di akhiri dengan tumbangnya badan saya yang sok kuat, dan sekarang alhamdulillah sudah bisa (agak) lebih sabar menghadapi semua yang terjadi setiap harinya. More often to say, “ya udahlah”.

That’s all I experiences while I’m at Jakarta. A new student from University of Life who just finished her orientation.

– Annisa Cynthia P.

Masa Orientasi di University of Life (Part I)

Standard

“Happy graduation! Welcome to University of Life..”

Kalimat diatas adalah yang sering terucap oleh setiap orang yang memberi selamat kepada teman/rekan, keluarga, atau pasangannya yang baru lulus kuliah. Inilah yang belum lama terjadi pada saya. Setelah lulus perkuliahan di BSI Sukabumi, kini saya mahasiswi baru di University of Life, jurusan Psikologi Pengembangan Diri. (eh, ada ga sih jurusan macam itu? Ngaco banget ya?)

Enam bulan sudah saya di “ospek” di Jakarta. September 2012 lalu, saya di terima kerja di sebuah perusahaan perkreditan kendaraan roda empat (atau lebih) (I’ve posted about it before).  Berkantor di Jl. Sultan Iskandar Muda, Kebayoran Lama − atau sering disebut di sekitar Pondok Indah, posisi jabatan sebagai Admin Collection. Jobdesk-nya yang banyak dan ini pengalaman pertama saya bekerja, saya sering kewalahan.

Daily activities: Pagi-pagi sebelum jam 10.00 WIB, cetak Surat Peringatan untuk konsumen yang belum membayar angsuran dengan 3 tipe surat, yaitu 1) Surat Pemberitahuan untuk para konsumen yang memiliki keterlambatan bayar selama 3 hari. 2) Surat Peringatan untuk yang terlambat 7 hari. Dan 3) Somasi untuk keterlambatan bayar 14 hari. (FYI, perusahaan menggunakan sistem Confins untuk mempermudah pekerjaan karyawannya). Lalu selanjutnya cetak Surat Tugas (ST) atau Surat Kuasa (SK) untuk wewenang perusahaan menarik kembali unitnya dari konsumen jika konsumen tidak juga membayar angsurannya. ST ini berlaku untuk dicetak ketika konsumen memiliki keterlambatan bayar 21-60 hari dan SK ≥ 61 hari.

SP1, SP2, SP3, ST hingga SK ini saya kasih untuk para debt collector. Ya, pasti kalian berfikir bahwa mereka menyeramkan. But, it isn’t always like that. Once again, NO. Mereka memang menyeramkan ketika mereka harus menghadapi konsumen yang arogan, keras kepala, atau bahkan ada juga konsumen yang udah marah-marah – padahal kolektor belum ngomong apa-apa. Sometimes, I heard they’re say: an**ng, t*i, dan kata-kata kasar lainnya ke konsumen lewat telepon. Telinga dan hati saya sering mendadak panas kalo denger mereka bentak-bentak di ruangan kantor. But, the other side, they are funny and friendly. Dibalik wajah-wajah seremnya, mereka bisa amat sangat menghargai perempuan. Oh, also if one of their got an incentive, he will give me a bit of money. Ya lumayan lah ya, Rp 50.000 juga. Haha.

Monthly activities: Ini yang selalu membuat saya pusing, akhir dan awal bulan. Saya harus menghitung Flowdown, Overdue, Insentif, Kunjungan harian, sampe ngitung pengeluaran bulanan! (okay, yang terakhir itu pribadi). Judulnya juga Admin Collection, jadi apa yang saya kerjakan ya untuk kelancaran para kolektor tersebut bekerja.

Randomly activities: Ketika kolektor berhasil menarik unit atau konsumen bayar angsuran plus biaya kolektor (jika ST/SK tercetak, maka konsumen wajib membayar Rp 1.500.000, selain membayar angsuran, dan unit tidak ditarik) saya harus membuat pengajuan IOM (Inter Office Memorandum) Pergantian Biaya Perjalanan ke kantor pusat.

Selama saya bekerja disana, so far so good. Alhamdulillah, rekan-rekan kerja di kantor friendly semua. Ngga ada tuh yang namanya istilah saling sikut blablabla, as people always said about work-life. That was fun, biarpun masih dalam tahap belajar – yang sering banyak salahnya. Hehe. Belum lagi lokasi kantor yang strategis. Maaann.. Pondok Indah. Who’s don’t know about Pondok Indah Mall? Or Gandaria City, maybe? Kantor saya terletak di tengah-tengah kedua mall tersebut. Then, sebagai anak (sok) gaul baru Jakarta, saya suka iseng-iseng pergi ke dua tempat tersebut. The odious moment is I always lost in their. Seketika lirik “…aku tersesat dan tahu arah jalan pulang…” dari lagu Butiran Debu pop up in my head. Entahlah, harus berapa kali saya nyasar di mall-mall di Jakarta, padahal udah berkali-kali dateng ke tempat itu dan itu masih berlangsung sampe sekarang. Sigh.

Sisi negatif selama di Jakarta adalah, lokasi dari rumah (saya tinggal dirumah sepupu saya) ke kantor. Okay, basically Ciledug – Pondok Indah are not too far. Cuma, yaa tau lah, Jakarta. Peraturan masuk kantor jam 8.30 WIB, saya berangkat dari rumah jam 6!! FYI, saya paling susah bangun pagi. Susah. Banget. Dari situ saya khawatir; emang bisa?

Jam 4 atau 4.30 lah saya berusaha udah bangun. Siap-siap ini itu walau sebenarnya mimpinya masih seru buat dilanjutin. Iya, ngantuk banget. Gimana ngga, saya sampe rumah dari kantor jam 7-an. Bubar kantor jam 5 sore. Sesampai dirumah, langsung mandi, makan dan tidur paling telat jam 10. Malah, di hari-hari tertentu harus nyuci. Kerasa banget perubahannya: TOTAL. Saya tinggal di Sukabumi santai sesantai-santainya. Acara jam 9, setengah jam sebelum acara juga keburu berangkatnya meskipun lokasi cukup jauh. Di Jakarta, jangan harap. Kebiasaan leyeh-leyeh – yang cenderung pada malas pun udah ga bisa. Siklus kehidupan saya berubah, dari bangun – makan – kuliah – leyeh-leyeh – makan – internetan – tidur – makan – internetan – tidur, berubah jadi bangun – makan – kerja – makan – tidur. “Gilaaa.. 24 jam – 7 hari ga cukup!”, that’s what my mind always said.

Hampir 2 bulan bekerja, akhirnya saya memutuskan untuk nge-kost di sekitar lokasi kantor. Kost yang akan saya tempati saat itu kebetulan ada rekan kerja juga. Singkat cerita, 25 November 2012, pindah lah saya ke kostan. Suasana baru dan penyesuaian diri lagi. Terutama manage keuangan dan kedisiplinan waktu yang diperketat karna ga ada yg bisa diandalkan untuk kedua itu.

I really enjoyed live at there. Lebih “bebas” karna ga ada yang merasa direpotkan. Dan ketika itu, saya juga sedang mempersiapkan segala persiapan untuk hari wisuda, yang akan dilaksanakan satu minggu setelah saya pindah ke kost, yaitu 1 Desember 2012.

Jadi, saya bekerja di Jakarta belum resmi sebagai fresh graduate, baru selesai sidang Tugas Akhir, lalu lebaran, lalu kerja. Dan setelah hari wisuda, semuanya mendadak berubah.

To be continue…

 

(okay, this is long enough. I will continue my story soon. See you!)

 

– Annisa Cynthia P.

Introducing: Ryan Adriandhy, my new mood booster

Standard

 

I’ve got a new mood booster! I saw him first at Malam Minggu Miko series by Raditya Dika. He is as Rianto Martino, Miko’s best friend. Yap, Ryan Adriandhy.

I looking for some his info more and more. Actually, Ryan has the winner of Stand Up Comedy Season 1 – Kompas TV (2011). I was watched videos on YouTube for his show. He’s awful. I can’t stop laughing while he’s stand-up.

He was born on 15th of June 1990. (Gosh.. We just differ one day! — except the year :p) he’s a graduated of Art and Design major in Binus University. He loves Buzz Lightyear (Toy Story). Ryan has in relationship with Elghandiva Astrilia. They’re cute couple :D

In this April, he begin the stand-up tour. It called “Take A Closer Look: The Tour” (#TACLtour). He will visit 8 cities that he mentioned on short film that he created. — link: The TOUR – short film

I wish I can attend on his #TACLtour finale at Jakarta on 24th of August 2013. It’s gonna be fun. I’m excited. And surely I can’t hardly wait!!

I really like him. Even I put his name on my BlackBerry Messenger status. Oh, on WhatsApp Messenger and LINE too! Those people put their boy/girlfriend on that. But, that is not for me. You can put whoever names is on your own messenger.

BlackBerry Messenger

WhatsApp Messenger

LINE

I spent all my times to know him deeply. I stalk his twitter timeline all day-night long, I read his Tumblr from first post until the last, seeing his own pictures, and watch all videos that he is there. Fortunately, I’m not so busy with my work, nowadays. Hence I can do that at all. Haha.

Okay, I think that’s enough to introduced and telling you that I love him so. I have to check his timeline now before I fall asleep :))

—————

P.S:

If you want to know Ryan Adriandhy, you can visit some links below:

Facebook: Personal — ryan.adriandhy | Official Page — AdriandhyPage

Twitter: Personal — Adriandhy | Official account for info, schedules and project — AdriandhyComedy

Tumblr: adriandhy.tumblr.com

Youtube: AdriandhyRyan

Soundcloud: ryan-adriandhy

His art-work: KanootPixels

DevianART: adriandhy.deviantart.com

 

— Annisa Cynthia P.

What I got at 2012

Standard

2012 jadi tahun perubahan. Perubahan status dari mahasiswa ke pegawai swasta sampe memutuskan untuk berjilbab.

Awal 2012, kuliah semester 6, mulai sibuk dengan Tugas Akhir. Selama empat bulan menyusun TA sampai akhirnya tanggal 23 Juli 2012 menghadapi sidang. Rasa takut yang tak berujung bikin semakin pesimis bisa lancar presentasi dan jawab pertanyaan-pertanyaan penguji. Ditambah hari itu adalah bulan Ramadhan. Puasa :| Satu jam pelaksanaan sidang, alhamdulillah lancar. Keluar ruangan, nangis. What a silly thing :))

Tapi senang sekali, banyak orang-orang di sekitar ku yang tidak berhenti memberi dukungan. Termasuk teman-teman seperjuangan hari itu. Group hugs, guys!

Selesai sidang, sudah tidak ada lagi kegiatan di kampus. Ceritanya jadi punya status gantung. Mahasiswa, bukan. Lulusan D3, juga belum.

Masih dalam suasana bulan Ramadhan, lebih menyukai menghabiskan waktu di rumah. Di bulan inilah, aku banyak mengevaluasi diri dan lebih mendekatkan diri dengan Tuhan. Sampai di minggu ketiga bulan Ramadhan, entah dapat bisikan dari mana, tiba-tiba berkeinginan untuk berjilbab.

Sebelumnya, setiap berkeinginan berjilbab pasti terbentur dengan berbagai macam pertimbangan. Tapi justru saat serius memutuskan berjilbab, aku menghiraukan pertimbangan-pertimbangan itu. “Pokoknya mulai lebaran berjilbab!” begitulah kata hati berbicara waktu itu.

Seminggu setelah Idul Fitri – yang berarti sudah resmi berjilbab – ada panggilan untuk tes masuk kerja (psikotes dan interview) di Jakarta. Berangkatlah aku ke ibukota. Setelah mengikuti tes-tes yang lumayan lancar, sorenya dikabarkan besok masuk kantor untuk training kerja. JEDEEERR!! Ke Jakarta tanpa persiapan, I mean, bawa baju seadanya untuk 2 hari malah disuruh training kerja selama 4 hari dan pertanggal 1 September resmi kerja di perusahaan tersebut (tes kerja tanggal 27 Agustus, training 28-31 Agustus).

Untungnya selama di Jakarta numpang dirumah Ua, dan kakak sepupuku punya beberapa baju kerja yang sudah tidak terpakai. Lumayan, bisa di pakai selama training.

1 September 2012, efektif kerja sebagai admin collection di perusahaan perkreditan mobil, PT. First Indo Finance cabang Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Selama 3 bulan kerja disana, banyak belajar. Banyak banget. Dari belajar hidup sendiri (di kampung orang pula), belajar mencari pengalaman kerja, belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, dll. Ditambah juga dengan keribetan mengurusi urusan kampus yang belum usai.

Tanggal 17 September 2012 adalah pengumuman kelulusan sidang TA yang dilaksanakan beberapa waktu sebelumnya. Bahagia, Grade A! Puas dengan hasil kerja keras selama kuliah tidak sia-sia. Then, after this sibuk menyelesaikan revisi Tugas Akhir yang harus diselesaikan dalam waktu kurang lebih satu bulan. Lalu bimbingan, lalu hard-covering TA, lalu pengumpulan, lalu persiapan wisuda. Semuanya berlalu selama tiga bulan. Ya, aku selama itu bolak-balik Jakarta-Sukabumi. Kadang bolos, kadang memanfaatkan hari libur/tanggal merah.

TA hardcover version

Akhirnya, sampailah kita semua di hari yang ditunggu-tunggu. Graduation Day at Dec 1st 2012. Err.. disini agak gagal momennya. Tapi, ya sudahlah…

Path 2012-12-01 1536

Selesai wisuda, tenangnya bisa fokus kerja tanpa riweuh dengan urusan kampus. Tapi, hari kedua setelah wisuda, dikabarkan oleh AR Manager kantor bahwa aku harus pindah ke Head Office, di posisi yang sama (admin collection, tapi nasional) dan perpindahan tersebut mulai besok!

Shock! Layaknya sedang berada dalam perlombaan lari tanpa menggunakan aba-aba untuk segera berlari.

Penyesuaian lagi dengan job desc baru, orang-orang baru, perjalanan berangkat-pulang kantor pun baru karena lokasi kantor sekarang di Batu Ceper, Jakarta Pusat. FYI, selama 4 bulan di Jakarta, aku sudah berkeliling dari Jakarta Selatan ke Jakarta Pusat dan Jakarta Timur (tempat tinggal saat ini). Pinter! :|

Semua petualangan ini berlangsung selama 2012. Terimakasih kepada Allah SWT yang telah mengabulkan resolusi ku untuk tahun 2012 ini, yaitu Lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan.

2013 sudah menghampiri kita, lebih baik dari tahun sebelumnya itu sudah kewajiban. I wish for this year that aku bisa benar-benar mewujudkan cita-citaku menjadi wanita karier. Bisa membeli sesuatu yang dimimpikan. Intinya, usaha tahun ini wajib menabung. Hah? Jodoh? Hmmm… semoga ditemukan. Hihi. Aamiin.

Banyak hal-hal lainnya yang juga berharga di tahun ini. Salah satunya ada di posting blog sebelumnya.

Terima kasih, 2012.

Thanks for read.

Regards.

Annisa Cynthia Pratami