Grandpa

Standard

Senin, 6 Mei 2013
Pagi yang cerah, saya sampai di kantor sekitar jam 8. Mengerjakan tumpukkan pekerjaan dengan semangat karena minggu itu hari kerja cuma 4 hari, kamis jadi tanggal merah.
Belum sampai satu jam duduk di ruangan kantor, tiba-tiba mendapat kabar yang amat mengejutkan saya.
….
Kakek meninggal.
….
Siapa yang nggak terkejut kalo sebelumnya kakek saya baik-baik aja, sehat wal’afiat. Bahkan sehari sebelumnya, hari Minggu, keluarga besar dengan tanpa sengaja berkumpul dirumah kakek. Katanya, memang mereka niat menjenguk kakek dan nenek saja. Atau mungkin ini salah satu pertanda? Kebetulan, pada Minggu itu saya tidak bergabung dengan mereka yang menjenguk kakek dan nenek. If I was there, maybe I can ‘read’ something? (Efek keseringan dapet tanda-tanda sebelum ada orang yang meninggal).
Belum banyak tahu apa penyebabnya kakek saya meninggal. Hari itu, saya mengerjakan pekerjaan yang bisa saya kerjakan cepat dan memilih mana yang bisa saya tinggal dan menitipkan pada partner saya. 1 jam kemudian, izin keluar kantor, go to Sukabumi in a rush.
Err.. judulnya aja sih, in a rush. Pada kenyataannya, kena macet blablabla, akhirnya sampe Sukabumi sekitar jam 4. Itu pun langsung ke lokasi pemakaman.
Sampai di pemakaman, sedang menguburkan kakek. Merinding. Bisa bayangin, kan? Orang yang kita sayang ada di bawah tanah, lalu di kubur. That is the saddest part when someone passed away.
Barulah setelah itu, saya di ceritakan bagaimana detik-detik meninggalnya kakek. Jadi, pagi yang menyenangkan bagi saya saat itu, kakek hendak shalat dhuha. Tiba-tiba saat selesai wudhu, kakek merasa nafasnya sesak. Nenek pun kebingungan. Sampai akhirnya, nenek menyuruh kakek untuk menidurkan kepalanya ke pangkuan nenek. Dan disitulah nafas terakhir kakek berhembus. That was so romantic, isn’t it? :’)

Minggu, 12 Mei 2013
Hari ke-7 kakek. Bertepatan dengan hari ulang tahun adik saya, Avila yang ke-17.
Di hari itu, saya diberitahukan ayah ketika hari wafatnya kakek, ayah bertemu dengan salah satu guru SMA saya yang juga kerabat kakek. Katanya, almarhum pernah bilang kalo saya adalah cucunya yang paling dekat. Oh my…
FYI, kakek memang tidak terlalu dekat dengan cucu-cucunya yang ada 13 orang. Mungkin karena saya dan orang tua saya pernah tinggal bersama kakek dan nenek dari saya lahir sampai umur 6 tahun. Setidaknya, saya cucu yang paling sering terlihat olehnya. Err.. dan saya memang cerewet waktu kecil. Tukang bangunan yang lagi renovasi rumah tetangga saja pernah saya bawelin dengan pertanyaan gak penting. Namanya juga anak kecil (ngeles).

Time running fastly, besok, 15 Juni adalah hari ke-40 kakek wafat. Berhubung beberapa keluarga sedang ada kesibukan, jadi tahlil 40 hari kakek akan di selenggarakan pada Minggu nya, 16 Juni. That’s my birthday. Again, bertepatan dengan hari ulang tahun. Positifnya, biar cucunya inget terus dan berdoa buat dia.

Selamat jalan kakek. Semoga amal ibadahmu di terima Allah SWT, di lapangkan kuburnya dan di beri penerangan. Juga mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Aamiin yaa rabbal’alamiin.

Love you, grandpa.

— Annisa Cynthia Pratami

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s