Masa Orientasi di University of Life (Part II)

Standard

(this is the continued the story I’ve posted before)

Senin, 3 Desember 2012, hari itu masih euphoria graduation day yang baru saja berlangsung 2 hari sebelumnya. Menjelang siang, berubah tegang dan membuat saya terheran-heran gak percaya. My AR manager inform me that I have to move to Head Office. Damn! Saya bingung antara seneng, “lho kok?”, dan bengong sambil bergumam “this is too fast”. Emang suatu keinginan bisa berkantor di kantor pusat. Agak keren aja gitu. Haha.

Okay, back to the point. Head Office (HO) ini berlokasi di Batu Ceper, Jakarta Pusat. Sedangkan saya domisili di Jakarta Selatan (kost). Ini hal pertama yang bikin saya sebal. Kalo tau gini, saya gak akan buru-buru pindah dari rumah sepupu saya ke kost. Berselang seminggu dari pindahan, kantor pindah. Ya jauh lagi lah lokasinya. Nyebelinnya lagi, saya sudah bayar kost untuk 1 bulan. Sayang banget kalo ditinggal gitu aja. Even all the things I bring to the kost, belum sempet saya beresin. Akhirnya, barang2 yang belum keluar dari tas gak saya keluarin untuk disimpen di lemari. Toh, abis ini saya mau keluar lagi dari kostan, kan?

Mutasi yang amat-sangat super cepat ini semakin kalang kabut karena esoknya setelah saya diberitahukan oleh manager saya untuk mutasi, saya pergi ke HO. Bertemu dengan partner saya nanti dan 3 orang rekan kerja satu ruangan yang berbeda divisi. Juga, dijelaskan jobdesk saya sebagai National Admin Collection.

It’s very simple than my jobdesk before. I just thinking, okay, I can hendled it. Dan yang terjadi besoknya adalah, saya kewalahan sama kerjaan sendiri. Hari itu, partner saya gak masuk karna harus istirahat total gara-gara sakitnya (that’s one of the reasons why I move to Head Office). Kerjaanya cuma mengkoordinir IOM Pergantian Biaya Perjalanan (IOM-PBP) dari seluruh cabang (penjelasan ada di Part I), di serahkan ke direksi yang berwenang untuk menentukan di setujui atau tidaknya biaya yang di ajukan. Tapi, yang claim biaya hari itu banyaaaaaakkk banget. Email baru terus menerus muncul. Belum lagi IOM-IOM yang pending karna persyaratannya belum lengkap. Terus, di panggil direksi untuk menghadap, menjelaskan kronologis-kronologis kolektor saat penarikan unit – yang harus saya hafalkan. Cuma satu yang saya pikirkan waktu itu, “jam bubar kantor kok lama banget?”. Fortunately, kejadian seperti itu ga berlangsung setiap hari, makin kesini, I spend times at office for sleep, gaming and internet. Hehehe.

Hectic day gak hanya sampai disitu aja. It’s became a hectic week. Serah terima jabatan di kantor cabang belum terlaksana. Yaa, karna perpindahan yang cepat itu. Ditambah laporan bulanan yang belum saya kerjakan sepenuhnya. Karna di HO cuma 5 hari kerja, sedangkan untuk cabang 6 hari, yaitu sampai dengan Sabtu, pada hari itulah saya menyempatkan diri datang ke kantor cabang di Pondok Indah. Finish off my job at there, then dadah-dadah sama rekan-rekan kerja disana yang kebetulan para ibu-ibu cukup muda. Haha.

Almost a month tinggal di kost di Pondok Indah dan masih belum menemukan kost baru. Daerah sekitar kantor yang baru ini, terkenal dengan “kehidupan malam”-nya. Saya jadi ragu-ragu dan gak terlalu berminat cari kost disitu. Terus dimana?

Seminggu sebelum harus bayar kost lagi, saya diajak tinggal sama sepupu saya yang lain. Saya coba menginap sehari disana. Actually, that was not long distance enough dari lokasi kantor. Okay, fixed!

Saturday, 22nd of December, I’m move on.

Sudah lebih dari 3 bulan saya tinggal di daerah Matraman, Jakarta Timur. Selama itu, saya sangat di uji kesabarannya. Mulai dari kemacetan yang parah, antrian di halte bus transjakarta yang selalu panjang, dan sikap 2 adik sepupu saya yang saya gak ngerti sama kelakuannya. Itu membuat saya semakin kesal berada dirumah. Badan dan pikiran yang cape sama kerjaan dan jalanan, harus dibikin semakin pusing sama keributan tiap malam.

Since I moved to my cousin’s house, I never go back to hometown. I never meet my parent and sister. Never join with my college’s friend too. Selain penghematan biaya, saya juga perlu istirahat. Bekerja di HO memang tidak melelahkan ― bahkan cenderung nganggur, tapi perjalanan yang membuat saya butuh istirahat. Tidur.

As I wrote above, saya tipe pemalas, maunya leyeh-leyeh. Jadi ketika saya harus dihadapkan pada rutinitas di Jakarta, I often worrying about my healthiness. Saya alergi debu, dua minggu pertama berada di Jakarta, saya terserang flu. Abis itu sembuh, gak sakit-sakit lagi.

Tapi kekhawatiran gak sampai disitu, karna saya merasa saya tidak se-fit sebelum saya di Jakarta. Cape, makanan kurang sehat, dan kurang tidur. Dan itu terjawab 3 minggu lalu. Berawal dari batuk kering (yang saya biarkan), then become to batuk berdahak. Gigi bungsu yang baru tumbuh, dan gusi jadi bengkak. Hari itu, minggu malam, sepulang saya dari SAE Institute, badan tib-tiba demam. So I choose to get dine and sleep early. Tapi selama tidur saya gelisah terus. Dan demam pun gak turun. Sampe menjelang pagi, tidur pun masih gak nyenyak. “You have to go work, you should be healed!” Tapi, menanamkan pikiran itu tidak berhasil.

Memutuskan untuk gak masuk kantor. Hari pertama ga langsung ke dokter, karna biasanya sehari juga sembuh. Minum obat warung, and all have done. Perkiraan itu, ternyata masih salah juga. Hari kedua, ga ngantor lagi dan pergi ke dokter. Hari ketiga, demam masih naik-turun. Saya kesel, saya mau pulang, saya mau manja sama ayah-ibu. This was the first time that I am sick and no one of my family beside me. I only talked on messenger with them. Saya menyerah, saya ga sanggup di ospek di kampus ini.

Sakit yang saya rasakan saat itu gak cuma sakit fisik, tapi juga batin. Can you imagine when you can’t meet your family for a long time? Ketika sakit itulah, kangennya makin berasa. I felt that is hard to heal because I miss them so much. Sampai pas malam ketiga, ibu saya telepon for  make sure that her daughter is fine (although, she knew I’m not fine). Then, I’m feeling better. Hoping tomorrow can be more better and I can go back to work. And that’s worth it!

Kalo kerja lalu ga masuk gara-gara sakit itu rugi serugi-ruginya. Because attendance is calculated for salaries. Huh.

Selama satu semester kuliah di University of Life, banyak banget pelajaran dan pengalaman-pengalaman baru yang membuat saya sering bilang: “pantesan orang tua sering memperingati ga boleh gini, harus gitu” atau “oh ternyata emang bener apa kata orang-orang kalo blablabla itu begini”. Hhh.. one semester is so tiring and worth it. Masa orientasi yang di akhiri dengan tumbangnya badan saya yang sok kuat, dan sekarang alhamdulillah sudah bisa (agak) lebih sabar menghadapi semua yang terjadi setiap harinya. More often to say, “ya udahlah”.

That’s all I experiences while I’m at Jakarta. A new student from University of Life who just finished her orientation.

– Annisa Cynthia P.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s